Pendidikan

Najelaa Shihab mengajak siswa menjadi pahlawan belajar gratis

Siswa memang menjadi garda terdepan dalam perubahan pendidikan, selain guru dan orang tua.

“Yang benar-benar bisa mengubah pendidikan adalah pelajar dan mahasiswa. Karena Anda adalah subjeknya. Andalah yang paling berkepentingan,” kata Najelaa Shihab, psikolog dan pemerhati pendidikan.

Penegasan ini disampaikan Najelaa dalam webinar “Pahlawan Diantara Kita” di Pusat Prestasi Nasional

(Puspresnas) pada 29 Desember 2012. Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Puncak Pencapaian Pencapaian Talenta Indonesia” yang akan berlangsung 28-30 April. Desember 2020.

“Jika pendidikan tidak menjadi jembatan menuju masa depan, maka yang paling dirugikan adalah siswa dan siswi,” lanjut Najeela.

Sambil berbagi pengalaman di hadapan lebih dari 800 siswa berprestasi, Najelaa mengingatkan bahwa pendidikan penuh adalah pendidikan yang mempersiapkan tidak hanya ijazah, tetapi juga kehidupan.

“Pendidikan abad ke-19 adalah soal nilai, angka, atau tes standar. Padahal, dunia sekarang ini, terutama di masa depan, membutuhkan orang yang tidak hanya memiliki nilai bagus,” kata Najelaa.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Dia menambahkan: “Hidup tidak memiliki banyak pilihan.

Kita membutuhkan kemampuan untuk menerapkan apa yang kita pelajari di sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari.”

Baca juga: Puspresnas Raih Rekor Kontestan Online Terbanyak di Masa Pandemi
Menjadi “Pembelajar Seumur Hidup”

Mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran, Najelaa mengatakan bahwa lembaga pendidikan masih menggunakan teknologi, tetapi pada dasarnya masih mempraktikkan pendidikan abad ke-19, di mana tidak ada komunikasi dua arah.

“Teknologi bisa jadi solusi, tapi tidak selama ada perangkat dan kuota data. Selama ada perangkat dan kuota data, kita akhirnya hanya memikirkan tugas satu arah. Integrasi teknologi, literasi digital harus mengikuti pedagogi yang tinggi oleh guru dan orang tua dalam mengolah pembelajaran terpadu,” jelasnya.

Oleh karena itu, Najelaa mendorong peserta untuk menunjukkan semangat “kemandirian belajar” dengan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Ia menyatakan bahwa kebebasan untuk belajar sejak lahir adalah fitrah manusia.

“Tuhan Yang Maha Esa memberikan alam kita kebebasan untuk belajar,” ujarnya.

Ia menggambarkan bagaimana anak-anak yang mulai belajar berjalan karena dorongan batin untuk penasaran ingin mencobanya tanpa iming-iming hadiah, catatan, stiker, dan lain-lain.

Selain syarat komitmen, kemandirian, dan refleksi, Najelaa menjelaskan, ada lima fase dimana mahasiswa yang berpartisipasi bisa mulai membudayakan pembelajaran Merdeka dalam rangka belajar panjang umur:

Memanusiakan Hubungan: Apakah Saya Memahami Kebutuhan Pembelajaran dan Kesiapan Saya?
Pahami konsepnya: mengapa saya harus mempelajari ini?
Membangun Keberlanjutan: Bagaimana Saya Memperoleh dan Memperoleh Apa yang Saya Pelajari?
Pilih Tantangan: Kapan Saya Menetapkan Tujuan Utama untuk Mempromosikan Pembelajaran Mandiri?
Konteks pemberdayaan: di mana saya harus mempraktikkan apa yang telah saya pelajari?

Baca Juga: Berbagai Prestasi dan Inovasi Mahasiswa Indonesia Di Tengah Pandemi
Definisi kinerja yang sebenarnya

Oleh karena itu, Najelaa berharap agar prestasi yang diraih para peserta tidak menjadi penghambat bagi para mahasiswa dan agar para mahasiswa tidak berhenti berkembang.

“Saya sangat berharap teman-teman yang telah meraih kesuksesan tidak membuat pengakuan ini sehingga kemandirian belajar berakhir di sini,” harapnya.

“Pendidikan memberi kekuatan. Dan itu harus ditunjukkan tidak hanya di ruang kelas, tetapi dalam konteks sehari-hari. Mulai sekarang, pemuda harus dikuatkan sebagai warga negara,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa dari lebih dari 750 Komunitas Semua Siswa Semua Guru, hampir 20 persen atau lebih dari 120 komunitas diprakarsai oleh kaum muda di bawah usia 20 tahun.

Mereka bergerak dan terpanggil untuk merespon sebagai solusi atas berbagai permasalahan yang ada di sekitar kita, mulai dari komunitas sahabat kampus hingga menjaga bumi, mendukung hak-hak pekerja rumah tangga hingga komunitas kesehatan mental.

“Inilah definisi prestasi yang sebenarnya. Ambil peran dan tanggung jawab untuk perubahan, perubahan dalam pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik. Kitalah yang kita tunggu-tunggu. Banyak yang bisa kita lakukan mulai hari ini,” ujarnya.

Di sisi lain, Najelaa juga mengingatkan peserta untuk tidak menyerah begitu saja terhadap perubahan lingkungan.

“Jika Anda ingin menjadi pemimpin, jika Anda ingin menjadi agen perubahan, Anda akan selalu menghadapi tantangan dari orang-orang yang pro status quo, yang berada di lingkungan mereka.

LIHAT JUGA :

indonesiahm2021.id
unesa.id
unimedia.ac.id
politeknikimigrasi.ac.id
stikessarimulia.ac.id
ptsemenkupang.co.id