Pendidikan

Jalur zonasi, upaya mewujudkan kualitas pendidikan yang berkeadilan

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas seluruh sekolah.

Kebijakan demi kebijakan terus diupayakan untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik.

Salah satunya dengan dikeluarkannya Kebijakan Penerimaan Siswa Baru (PPDB)

yang fokus pada pendidikan berbasis zona.

Teknis pelaksanaan PPDB 2021 juga dijelaskan secara rinci dalam Permendikbud nomor 1 tahun 2021.

Baca Juga: PPDB 2021: Semua Satuan Pendidikan Didorong Jadi Sekolah Terfavorit
Upaya untuk memastikan pemerataan kualitas

Koordinator Kemahasiswaan Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kementerian Pendidikan

dan Kebudayaan Maulani Mega Hapsari mengatakan, sistem zonasi ini merupakan upaya pemerataan mutu pendidikan agar semua siswa nantinya dapat mengakses pendidikan yang berkualitas.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

“Selama ini kita mengenal sekolah favorit. Dengan PPDB yang berbasis zonasi ini, kami ingin memberikan pemerataan pendidikan yang berkualitas dan layak kepada semua siswa,” ujar Maulani Mega Hapsari dalam episode perdana podcast ‘Dialog Sobat SMP’. ‘ seperti dikutip pada laman, Direktorat SMP, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Minggu (13/06/2021).

Direktorat SMP juga telah mempelajari, sebagian besar anak yang bersekolah di sekolah favorit

adalah anak-anak dari keluarga kaya.

Memang, semua anak berhak atas pendidikan dengan kualitas yang sama, terlepas dari aspek ekonomi atau sosial mereka.

Baca juga: Pakar UGM Ungkap Kejahatan Bahasa dan Kebebasan Berekspresi

Terkait kritikan orang tua tentang sistem zonasi di PPDB, Mega mengatakan perlu pemahaman dari orang tua yang mungkin merasa kaget dengan kebijakan tersebut.
Anak-anak pergi ke sekolah di dekat rumah mereka dengan lebih nyaman

Pertimbangan sistem zona merupakan proses berkelanjutan menuju sistem pendidikan yang lebih baik.

“Nantinya, anak-anak bisa merasa nyaman ketika bisa bersekolah di dekat rumahnya. Anak-anak tidak dimaksudkan untuk diisi dengan hal-hal akademis saja. Ada juga hal-hal non akademik yang bisa menunjang perkembangan anak,” jelasnya.

Baca Juga: Pengumuman Hasil SBMPTN 2021, Cek Link Utama Dan 29 Halaman Cermin Ini

Selama ini, lanjut Mega, mereka tidak diberi hak untuk menyalurkan minat dan bakatnya pada kegiatan lain karena jarak antar sekolah yang terlalu jauh.

“Energi anak-anak habis di jalan. Selain itu, nanti tidak ada lagi sekolah favorit, nanti semua sekolah sama,” kata Mega.
Kualitas guru dan tenaga kependidikan yang setara

Bukan hanya keuntungan siswa, kebijakan sistem zonasi sebenarnya ditujukan untuk pemerataan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di setiap satuan pendidikan. Mega menambahkan arah kebijakan sistem zonasi bagi guru dan tenaga kependidikan.

Baca juga: Pendaftaran Seleksi Mandiri ITB Diperpanjang, Simak Persyaratannya

Kemendikbud juga ingin agar pendidik dan tenaga kependidikan pada akhirnya memiliki tingkat kompetensi yang sama.

“Sementara ini proses, kalau semua sekolah dibuat nanti gapnya akan menyempit,” pungkas Mega.

LIHAT JUGA :

pcpm35rekrutmenbi.id
indi4.id
connectindonesia.id